Kalau ngomongin tokoh perjuangan Indonesia, nama Tan Malaka mungkin nggak sepopuler Soekarno atau Hatta. Padahal, sosok yang satu ini punya cerita hidup yang luar biasa dan penuh petualangan. Tan Malaka bukan cuma seorang pejuang kemerdekaan, tetapi juga seorang pemikir yang sejak jauh sebelum Indonesia merdeka sudah punya gagasan tentang sebuah republik. Hidupnya banyak dihabiskan dalam pelarian karena aktivitas politiknya, bahkan ia sempat tinggal di berbagai negara. Karena pemikiran dan perjuangannya itulah Tan Malaka kemudian dikenal dengan julukan “Bapak Republik Indonesia”.
7 Fakta Unik Tentang Tan Malaka
1. Nama aslinya Ibrahim Datuk Tan Malaka
Tan Malaka lahir dengan nama Ibrahim di Pandan Gadang, Sumatera Barat, pada 1897. Nama “Tan Malaka” merupakan bagian dari gelar adat yang kemudian lebih dikenal luas sebagai namanya.
2. Pernah belajar di Belanda
Tan Malaka mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan di Rijkskweekschool, Haarlem, Belanda. Di sana, wawasannya semakin terbuka dan ia mulai banyak mengenal berbagai pemikiran politik yang sedang berkembang di Eropa.
3. Hidup dalam pelarian
Tan Malaka bisa dibilang menjalani hidup seperti buronan. Karena aktivitas politiknya, ia berpindah-pindah negara dan menggunakan berbagai nama samaran. Ia pernah berada di Belanda, Jerman, Rusia, China, Filipina, hingga Singapura.
4. Pernah bertemu tokoh komunis dunia
Tan Malaka sempat berada di Uni Soviet dan menghadiri kegiatan Komintern. Pengalamannya di sana membuat pemikirannya mengenai perjuangan politik dan kemerdekaan semakin berkembang.
5. Menulis buku “Naar de Republiek Indonesia”
Pada 1925, Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia atau “Menuju Republik Indonesia”. Buku ini menjadi salah satu karya penting karena membicarakan gagasan Indonesia sebagai sebuah republik ketika kemerdekaan masih belum terwujud.
6. Pernah menjadi buruh dan guru
Perjuangan Tan Malaka bukan hanya dilakukan lewat politik. Ia juga pernah bekerja sebagai guru. Pengalaman tersebut membuatnya dekat dengan kehidupan rakyat biasa dan semakin yakin bahwa pendidikan merupakan bagian penting dalam perjuangan.
7. Akhir hidupnya masih menyimpan misteri
Tan Malaka meninggal pada 1949 di Jawa Timur dalam situasi revolusi yang penuh konflik. Ia ditembak oleh pasukan TNI di daerah Kediri. Selama bertahun-tahun, lokasi makamnya bahkan tidak diketahui secara pasti hingga akhirnya makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya ditemukan.
Yang menarik dari Tan Malaka adalah keberaniannya mempunyai gagasan besar ketika keadaan belum memungkinkan. Saat banyak orang masih berjuang dengan cara masing-masing menghadapi penjajahan, Tan Malaka sudah membayangkan Indonesia sebagai negara republik yang merdeka. Ia juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Madilog, yang membahas cara berpikir berdasarkan materialisme, dialektika, dan logika. Meski pemikirannya banyak dipengaruhi sosialisme dan komunisme, perjalanan politik Tan Malaka sebenarnya cukup kompleks. Ia pernah berbeda pandangan dengan kelompok komunis internasional dan memilih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan caranya sendiri. Karena itu, sosok Tan Malaka tidak bisa dilihat hanya dari satu label politik. Ia adalah seorang pemikir, guru, penulis, sekaligus pejuang yang rela hidup berpindah-pindah demi mempertahankan gagasannya. Bahkan, dalam beberapa periode hidupnya, ia harus menggunakan nama samaran agar tidak mudah ditangkap oleh pemerintah kolonial. Ironisnya, setelah Indonesia merdeka pun kehidupannya tetap berakhir dalam konflik politik dan bersenjata.
Tan Malaka adalah salah satu tokoh yang kisahnya mungkin terdengar “gila” kalau dilihat dari zaman sekarang. Ia berkeliling dunia, menulis gagasan tentang republik, hidup dalam pelarian, dan tetap memperjuangkan kemerdekaan meski berkali-kali menghadapi bahaya. Terlepas dari perdebatan mengenai pemikiran politiknya, kontribusinya dalam sejarah perjuangan Indonesia membuat Tan Malaka layak untuk terus dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan lahirnya Republik Indonesia.